Minggu, 06 April 2014

SELFIE

Remaja-remaja sekarang pasti udah familier sama yang namanya selfie. Lagi hits,katanya. Dengan selfie biasanya kita akan merasa lebih puas dengan hasil fotonya karena kita punya kendali penuh dalam menentukan pose, angle yang menarik bahkan kapan memencet tombol kamera. Selfie memang bisa bikin kecanduan, apalagi sejak ada sosmed, selfie seolah sudah jadi keharusan. Setidaknya tercatat ada 31 juta foto dengan hastag #selfie di instagram. Selfie ini makin jadi tren karena banyak seleb yang melakukannya. Well, selfie memang menyenangkan dan bisa menambah rasa pede. Tapi kebiasaan yang berlebihan bisa menjadi pisau bermata dua loh!

Kenapa sih orang senang banget bikin selfie?
Pada dasarnya setiap manusia senang terlihat menarik dan diperhatikan. Apalagi dengan selfie kita bisa menentukan sendiri foto-foto mana yang bagus dan kurang bagus. Bisa membuat selfie yang bagus tentu menambah rasa bangga dan kepuasan sendiri. Secara tidak langsung, ini bisa menambah rasa pede. Apalagi kalau ada yang memuji foto kita. Makin makin deh rasa pedenya.
Eh, tapi hati-hati, lho. Keseringan bikin selfie ternyata juga enggak bagus. Selfie itu seperti pisau bermata dua. Selain bisa bikin kita tambah pede, ada juga efek yang enggak baik buuat kesehatan mental, terutama remaja. Psikolog dari amerika, Pamela Rutlege, PhD dari Massachusetts School of Professional Psycology bilang kalau keseringan membuat selfie bisa merusak percaya diri.

Jadi, selfie itu bikin tambah pede atau merusak rasa pede nih?
Sebagai remaja kita masih butuh pengakuan daari oranglain, terutama teman-teman disekitar kita. Nah, komentar ini sangat berpengaruh pada rasa pede kita. Saat meng-upload selfie ke sosmed, kita tentu berharap ada komentar dari orang lain berupa pujian atau foto kita di like orang. Tapi kenyataannya, enggak semua selfie kita bakal bagus dimata orang. Lebih parah lagi kalau kita mendapat komentar jelek dari orang lain.
Rasa enggak pede akan semakin besar kalau komentar-komentar yang nggak enak tidak hanya datang dari teman-teman sekitar kita, tapi juga orang asing. Dan rasa enggak pede akan membesar berkali kali lipat saat kita membuka akun sosmed teman, dan melihat selfie mereka dipuji-puji orang banyak. Tanpa sadar kita jadi membandingkan diri kita dengan orang lain.
Dari sekian banyak orang yg suka selfie, ada beberapa yang saking inginnya dapat pujian dari orang, sampai  sengaja memperlihatkan bagian tubuhnya yang jelas-jelas tidak senonoh. Nah, bahaya kan kalau sampe kaya gitu?

Body image negatif
Dr. Jill Weber, seorang psikolog, juga setuju dengan bahaya selfie. Kata Jill Weber, kecanduan selfie sangat berbahaya. Kita merasa bersemangat tapi ketika ada komentar negatif, kita merasa diri kita enggak ada artinya. Kenapa bisa begitu? Karena selfie bentuknya foto diri dan wajah, maka komentar yang muncul pun akan seputar penampilan fisik. Nggak jarang juga orang akan mengomentari bagian tubuh kita, seperti mata yang berkantung, lengan yang besar, dan lain lain. Dulu mungkin kita enggak kepikiran kalau bentuk kuping kita terlalu lebar, tapi karena ada yg mengomentari selfie kita, akhirnya malah jadi kepikiran deh. Inilah yang disebut body image negatif.

Jadi, selfie itu nggak boleh?
Bukannya selfie enggak boleh, lho. Tapi sebaiknya mulai dibatasi. Ketika memposting selfie, tanya diri sendiri, tujuan kita lebih cenderung kemana? Kalau memang hanya sekedar senang-senang, enggak perlu memposting setiap hari kan? Cukup untuk hal-hal spesial, misalnya saat pesta ulang tahun atau saat foto buku tahunan.

Atau, kalau memang kita merasa tidak kuat kalau mendapat komentar negatif, kita bisa memposting foto lain. Banyak cara untuk mengekspresikan diri selain dari bikin selfie. Kita bisa memotret pemandangan yang dilewati sepanjang perjalanan pulang sekolah, buku favorit kita, pasar malam yang ada didekat rumah kita, dan lain-lain. Pasti kita akan mendapatkan komentar yang tentunya lebih menyenangkan, karena komentarnya akan berfokus pada objek foto, bukan pada wajah atau penampilah fisik kita. Jauh lebih asyik kan? J

Tidak ada komentar: