Remaja-remaja sekarang pasti udah familier sama yang namanya
selfie. Lagi hits,katanya. Dengan selfie biasanya kita akan merasa lebih puas
dengan hasil fotonya karena kita punya kendali penuh dalam menentukan pose,
angle yang menarik bahkan kapan memencet tombol kamera. Selfie memang bisa
bikin kecanduan, apalagi sejak ada sosmed, selfie seolah sudah jadi keharusan. Setidaknya
tercatat ada 31 juta foto dengan hastag #selfie di instagram. Selfie ini makin
jadi tren karena banyak seleb yang melakukannya. Well, selfie memang
menyenangkan dan bisa menambah rasa pede. Tapi kebiasaan yang berlebihan bisa
menjadi pisau bermata dua loh!
Kenapa sih orang senang banget bikin selfie?
Pada dasarnya setiap manusia senang terlihat menarik dan
diperhatikan. Apalagi dengan selfie kita bisa menentukan sendiri foto-foto mana
yang bagus dan kurang bagus. Bisa membuat selfie yang bagus tentu menambah rasa
bangga dan kepuasan sendiri. Secara tidak langsung, ini bisa menambah rasa
pede. Apalagi kalau ada yang memuji foto kita. Makin makin deh rasa pedenya.
Eh, tapi hati-hati, lho. Keseringan bikin selfie ternyata
juga enggak bagus. Selfie itu seperti pisau bermata dua. Selain bisa bikin kita
tambah pede, ada juga efek yang enggak baik buuat kesehatan mental, terutama
remaja. Psikolog dari amerika, Pamela Rutlege, PhD dari Massachusetts School of
Professional Psycology bilang kalau keseringan membuat selfie bisa merusak
percaya diri.
Jadi, selfie itu bikin tambah pede atau merusak rasa pede
nih?
Sebagai remaja kita masih butuh pengakuan daari oranglain,
terutama teman-teman disekitar kita. Nah, komentar ini sangat berpengaruh pada
rasa pede kita. Saat meng-upload selfie ke sosmed, kita tentu berharap ada
komentar dari orang lain berupa pujian atau foto kita di like orang. Tapi
kenyataannya, enggak semua selfie kita bakal bagus dimata orang. Lebih parah
lagi kalau kita mendapat komentar jelek dari orang lain.
Rasa enggak pede akan semakin besar kalau komentar-komentar
yang nggak enak tidak hanya datang dari teman-teman sekitar kita, tapi juga
orang asing. Dan rasa enggak pede akan membesar berkali kali lipat saat kita
membuka akun sosmed teman, dan melihat selfie mereka dipuji-puji orang banyak. Tanpa
sadar kita jadi membandingkan diri kita dengan orang lain.
Dari sekian banyak orang yg suka selfie, ada beberapa yang
saking inginnya dapat pujian dari orang, sampai
sengaja memperlihatkan bagian tubuhnya yang jelas-jelas tidak senonoh. Nah,
bahaya kan kalau sampe kaya gitu?
Body image negatif
Dr. Jill Weber, seorang psikolog, juga setuju dengan bahaya
selfie. Kata Jill Weber, kecanduan selfie sangat berbahaya. Kita merasa
bersemangat tapi ketika ada komentar negatif, kita merasa diri kita enggak ada
artinya. Kenapa bisa begitu? Karena selfie bentuknya foto diri dan wajah, maka
komentar yang muncul pun akan seputar penampilan fisik. Nggak jarang juga orang
akan mengomentari bagian tubuh kita, seperti mata yang berkantung, lengan yang
besar, dan lain lain. Dulu mungkin kita enggak kepikiran kalau bentuk kuping
kita terlalu lebar, tapi karena ada yg mengomentari selfie kita, akhirnya malah
jadi kepikiran deh. Inilah yang disebut body image negatif.
Jadi, selfie itu nggak boleh?
Bukannya selfie enggak boleh, lho. Tapi sebaiknya mulai
dibatasi. Ketika memposting selfie, tanya diri sendiri, tujuan kita lebih
cenderung kemana? Kalau memang hanya sekedar senang-senang, enggak perlu
memposting setiap hari kan? Cukup untuk hal-hal spesial, misalnya saat pesta
ulang tahun atau saat foto buku tahunan.
Atau, kalau memang kita merasa tidak kuat kalau mendapat
komentar negatif, kita bisa memposting foto lain. Banyak cara untuk
mengekspresikan diri selain dari bikin selfie. Kita bisa memotret pemandangan
yang dilewati sepanjang perjalanan pulang sekolah, buku favorit kita, pasar
malam yang ada didekat rumah kita, dan lain-lain. Pasti kita akan mendapatkan
komentar yang tentunya lebih menyenangkan, karena komentarnya akan berfokus
pada objek foto, bukan pada wajah atau penampilah fisik kita. Jauh lebih asyik
kan? J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar